Pak Faisol, begitu kami memanggilnya, orangnya pendek dengan rambut lurus dan berkacamata. Setiap aku liat beliau waktu berjalan, sering kali beliau menatap kebawah seolah merunduk bagaikan padi, wajahnya selalu berseri dan terpancar cerah meskipun kulitnya tak seputih orang cina.
Beliau pertama kali mengajar kami mata kuliah JARINGAN KOMPUTER, setiap kali mengawali kelas aku belum pernah mendengar beliau mengucapkan salam, tapi saat melihat wajahnya, aku yakin dalam hatinya mengucap beribu salam untuk kami. Gaya mengajarnya lain daripada dosen yang lain, kalau yang lain dengan gaya lama yaitu dengan membuka buku atau laptop lalu menjelaskan sesuai dengan yang dibuka tersebut, yah mending kalau menjelaskan, ada juga yang hanya sekedar membaca isi presentasi tersebut dengan kakunya dan membuat mata ini serasa ingin tidur dikelas, yasudahlah….lain ladang memang lain belalang, lain dosen juga lain cara mengajarnya. Berbeda dengan dosen ini, beliau mengajar tak lebih hanya menulis beberapa potong kalimat dipapan, selebihnya beliau jelaskan dengan gamblang seolah-olah sudah sangat mengusai apa yang ditulis dipapan tersebut. Disela-sela memberi materi, banyak terlempar canda ataupun nasehat-nasehat kehidupan, sehingga membuat cair suasana kelas itu.
“Ini ilmu hidup lho, perhatikan….bla bla bla!” itu kata – kata yang kerap muncul ditengah2 kuliah, beliau sering kali mengkaitkan materi yang dijelaskan dengan implementasi dihidup ini, apapun materinya pasti dapet kaitannya dengan ilmu hidup. Dengan tawanya yang lepas dan senyumnya yang serasa ikhlas membuat kami semua merasa betah dikelas. Pernah beliau melontarkan pertanyaan ke salah satu mahasiswa seperti ini: Continue reading

Free your voice