Matahari sudah mulai tenggelam meninggalkan sisa cahaya kemerah-merahan dan menyembul ke permukaan laut, kapal-kapal sandar dan aktifitas bongkar muat barang masih terlihat ramai di sore itu. Tampak seorang pemuda dengan pakaian kantor dan tas ransel di punggungnya, duduk sendiri dengan motornya di tepian dermaga, sebatang rokok terselip di jari tangannya. Pandangannya lepas ke arah laut, mencoba melupakan pekerjaan dan kuliahnya,wussh…sesekali angin menyapu rambutnya dan membawa asap rokok menjulang ke udara.Tampak begitu lelah di wajahnya, tapi tidak untuk semangatnya…semangat menimba ilmu, semangat mengejar mimpi, semangat yang tak pernah pudar untuk mengejar apa yang dicita-citakan.
Tak lama kemudian dia beranjak dari dermaga dengan motornya, berjalan diantara tumpukan petikemas menuju gerbang keluar terminal. Truk trailer memadati sepanjang jalan itu, terdengar suara klakson dari sana sini, petang mulai menampakkan diri, lampu-lampu kota perlahan-lahan mulai tampak menyala.Suara adzan magrib terdengar dari kejauhan, menyusup telinganya, merambat sampai hati, kemudian membuat matanya tampak basah dan membuat dia teringat ibunya, teringat kampungnya, teringat saudaranya, teringat dosa-dosanya. Ya Allah…sesekali kata itu terucap dari bibirnya seakan dia menyerahkan dirinya pada Sang Pencipta. Laju motornya semakin jauh meninggalkan dermaga dan membelah jalanan kota yang tampak gemerlap. Pikirannya sudah terbayang-bayang kampus, tempat yang begitu akademis “kata orang”, tempat kumpulan orang intelek “kata orang”, di tempat itulah dia membuat batu pijak untuk mengejar impiannya.
Sesampai dikampus dia langsung menuju masjid, sejenak menyembah Sang Pencipta. Dengan terburu-buru kakinya melangkahnya menuju kelas, sudah bisa ditebak….kuliah sudah dimulai, pertanda dia telat lagi. Capek atau tidak, ngantuk atau tidak, semua yang disampaikan dosen dia saring dan dicacat di binder yang terlihat tampak banyak coretan. Matanya terkadang mengamati keseluruhan isi kelas, dosen yang terkadang membosankan, jendela yang tergerak-gerak terdorong angin, cengiran teman-temannya dipojok kelas, muka-muka serius berada dibarisan depan, muka sok tau sok pintar yang terkadang juga tampak….ah, masa bodoh pikirnya…inilah kami mahasiswa penerus bangsa tegasnya.
Hari demi hari di lewati dengan rutinitas seperti itu, sampai wisudanya menjemput pada waktunya nanti, tahun depan adalah targetnya untuk meraih batu pijak atau wisuda itu. Entah kemana harus merantau lagi, kemana harus mengejar mimpi-mimpinya setelah wisuda nanti, itu masih terbayang-bayang di benaknya.Apa nggak capek kuliah sambil kerja gitu? sering banget pertanyaan semacam itu ditujukan padanya, ya capek…tapi harus gimana lagi? ini sudah jadi pilihan dan tekadku, begitu dia menjawabnya.
Di pagi hari sewaktu berangkat kerja, terkadang dia teringat waktu masih kuliah pagi…begitu luangnya waktu itu, begitu nikmatnya suasana kampus disiang hari, betapa pulesnya tidur siang…tapi kini waktu sudah berjalan, di saat mahasiwa berangkat ke kampus..dia berangkat kerja, disaat mahasiswa pulang…dia berangkat kuliah.Tak ada yang perlu disalahkan, tak ada yang perlu disesali,…hanya syukur dan tekadku yang akan membeli mimpi-mimpiku….itu yang ditanamkan dalam otaknya. Selamat Pagi Indonesia……..