Manusia – manusia

Oh Tuhan,
untuk apa sebenarnya aku berada dibumi-Mu ini?
bukankah hanya untuk menyembah-Mu?
bukankah hanya untuk mentaati-Mu?
bukankah hanya untuk berjalan lurus menuju surga-Mu?

Oh Tuhan,
kenapa mata ini terkadang silau dengan apa yang manusia tawarkan?
indahnya lampu-lampu kota ini,
gemerlapnya sinar gedung-gedung ini,
cantiknya pesona wanita-wanita malam ini,

Oh Tuhan,
apa ini yang disebut bujukan setan?
kenapa manusia terus menyalahkan setan?
kenapa manusia tak merasa bahwa telah menjadi setan?
ah…setaan!

Oh Tuhan,
apa alasan dari semua ini?
kemana aku harus mencari jawabnya?
semua telah berubah menjadi buta
buta dan tak mampu melihat-Mu lagi

Oh Tuhan,
Kemana akhir dari dunia ini?
bukankah semua sudah tertera dalam kitab-Mu,
kenapa semua seakan tak mau sadar akan itu?
sadar akan akhirat-Mu, sadar akan balasan-Mu,

Oh Tuhan,
malam ini dingin, disudut gemerlapnya kota
bawa aku ke dasar hati untuk menemukan-Mu
bawa aku ke ujung iman untuk menemukan-Mu
beri aku jawaban atas semua ini,

Oh Tuhan,
sadarkan aku, sadarkan manusia-manusia ini,
akan bodohnya, akan rakusnya, akan apa yang mereka kejar
semua akan kembali pada-Mu ya Tuhan……

Oh Tuhan,
hamba bersimpuh…hampa berserah diri..

Mahasiswa Malam

Matahari sudah mulai tenggelam meninggalkan sisa cahaya kemerah-merahan dan menyembul ke permukaan laut, kapal-kapal sandar dan aktifitas bongkar muat barang masih terlihat ramai di sore itu. Tampak seorang pemuda dengan pakaian kantor dan tas ransel di punggungnya, duduk sendiri dengan motornya di tepian dermaga, sebatang rokok terselip di jari tangannya. Pandangannya lepas ke arah laut, mencoba melupakan pekerjaan dan kuliahnya,wussh…sesekali angin menyapu rambutnya dan membawa asap rokok menjulang ke udara.Tampak begitu lelah di wajahnya, tapi tidak untuk semangatnya…semangat menimba ilmu, semangat mengejar mimpi, semangat yang tak pernah pudar untuk mengejar apa yang dicita-citakan.

Tak lama kemudian dia beranjak dari dermaga dengan motornya, berjalan diantara tumpukan petikemas menuju gerbang keluar terminal. Truk trailer memadati sepanjang jalan itu, terdengar suara klakson dari sana sini, petang mulai menampakkan diri, lampu-lampu kota perlahan-lahan mulai tampak menyala.Suara adzan magrib terdengar dari kejauhan, menyusup telinganya, merambat sampai hati, kemudian membuat matanya tampak basah dan membuat dia teringat ibunya, teringat kampungnya, teringat saudaranya, teringat dosa-dosanya. Ya Allah…sesekali kata itu terucap dari bibirnya seakan dia menyerahkan dirinya pada Sang Pencipta. Laju motornya semakin jauh meninggalkan dermaga dan membelah jalanan kota yang tampak gemerlap. Pikirannya sudah terbayang-bayang kampus, tempat yang begitu akademis “kata orang”, tempat kumpulan orang intelek “kata orang”,  di tempat itulah dia membuat batu pijak untuk mengejar impiannya.

Sesampai dikampus dia langsung menuju masjid, sejenak menyembah Sang Pencipta. Dengan terburu-buru kakinya melangkahnya menuju kelas, sudah bisa ditebak….kuliah sudah dimulai, pertanda dia telat lagi. Capek atau tidak, ngantuk atau tidak, semua yang disampaikan dosen dia saring dan dicacat di binder yang terlihat tampak banyak coretan. Matanya terkadang mengamati keseluruhan isi kelas, dosen yang terkadang  membosankan, jendela yang tergerak-gerak terdorong angin, cengiran teman-temannya dipojok kelas, muka-muka serius berada dibarisan depan, muka sok tau sok pintar yang terkadang juga tampak….ah, masa bodoh pikirnya…inilah kami mahasiswa penerus bangsa tegasnya. Continue reading

Senandung hari

Rame sih, tapi sepi….

Ada juga, tapi kosong….

Berbunyi sih, tapi tak nyaris tak terdengar….

Tertawa juga, tapi entah kemana manisnya…

Berjalan sih, tapi kemana ujungnya….

Bingung juga menjelaskan, tapi bisa dimengerti…

Ahh…peduli amat dengan hari, besok juga datang lagi.

Apa itu pecundang?

 

Kepada siapa aku harus cerita?

rumput? hah…itu cerita lama

Biar saja dipendam sampai mati?

hah? tak akan ada yang mengenal

 

Oh Tuhan…..

tak akan pernah bosan kuperbincangkan denganMu

tentang hidup ini, tentang apa nanti

tentang indah itu, tentang semua yang Kau tuliskan

 

Malam ini tak berputar, hanya lorong-lorong pagi yang terlihat

Bidadari datang mengantar mimpi lalu pergi lagi

Kemana aku harus mencari?

Tak satupun yang bisa menjawab

Hanya gelap dan pekatnya malam yang mencoba merayu dengan angkuhnya

Harapan itu…mimpi itu….

Oh Tuhan…selamat malam

 

 

 

Lakum Dinukum Waliyadin

Rusuh lagi rusuh lagi, kasus lagi kasus lagi, yah inilah negara kita tercinta. Kata orang-orang, gak hidup kalau gak ada masalah, tapi kan yo bukan berarti masalah harus terus terjadi kan? apalagi masalah yang negatif. Akhir-akhir ini Indonesia digegerkan dengan tragedi berdarah antara jemaat ahmadiyah dan umat muslim. Aku tak tau kok tiba2 ahmadiyah muncul lagi disela-sela kasusnya Gayus yang sedang panas, apa hanya untuk mengalihkan perhatian kami yang tak tau apa-apa atau gimana, biar Tuhan yang maha tahu yang menunjukkannya, dan semoga semua ini cepet teratasi dengan damai.

Semalem aku liat acara yang memabahas masalah ini di salah satu stasiun tv swasta, dalam dialog tersebut menghardirkan pengacara dari umat muslim, tokoh ahmadiyah dan bapak Amien Rais selaku cendekiawan muslim. Mereka semua saling mengutaran pendapat dan pembelaan,  bahkan terlihat saling “eyel-eyelan” diantara mereka, sedangkan aku sebagai penonton sekaligus orang awam, cuma bisa klopa klopo melihat mereka.  (hehe…klopo iki opo yo? :D Continue reading

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.